PEMBACA

Senin, 02 September 2024

TRAUMA RECOVERY (Jejak Kaki Sang Ayah)


Saya pernah mengikuti zoom penulisan buku bisa best seller dari penulis kenamaan. Satu hal yang pernah disampaikan, buku beliau lahir dari keresahan. 
Kalau saya ingin mengikuti beliau, saya harus mencoba menyampaikan tulisan mentah yang isinya keresahan terpikir di kepala, tanpa memikirkan apapun, hehehehe.... 
Efek jelek yang mungkin akan terjadi karena julidan nitizen atau apalah nanti yang terjadi belakangan, hilaaaaangggkan dulu. Paling tidak kali ini, saya hanya menuliskan apa yang terpikir. Belum ada koreksi atau apapun. Apa nanti akan jadi bahan olokan baru, "oh, aku bisa menebak pola pikir kamu, Jarni." Hahaha... biar saja.

Baiklah, inilah yang terjadi pada hari pertama.

Setelah resah sejak pertemuan pertama, Juli 2017 denganmu. Kuputuskan membuat cerita ini untuk proses penyembuhan trauma tanpa melibatkanmu.
Rencananya, calon buku akan kuberi nama 

#30daysprogram
TRAUMA RECOVERY
Jejak Kaki Sang Ayah yang Tak Bisa Pergi

Itu baru rencana mentah.

Hari pertama, outline yang terpikir kisah seorang paruh baya tanpa sadar mengikuti gelombang arus pikiran dan hati menuju luka terpanjang dalam hidu[nya. Luka itu  tak berdarah tapi menggores panjang dan dalam. Bertahun-tahun diberika diberi kelonggaran harapan dan sikaap manis. Nyaman itu satu kenikmatan yang ia nikmati. Tak terpikir untuk mengelak. Ia mengikuti ke mana aliran yang membawanya pergi. Ke hilir, ke hulu, atau mungkin kembali lagi ke hilir. Ia tak peduli. Pesona kenyamanan begitu memikat. 
Hari pertama yang perlu digaris bawahi untuk outline bab 1, Nyaman itu kenikmatan yang melenakan. Nyaman akan membawa luka tapi tak berdarah, ketika pelaku utama merasakan kebosanan. Kamu bosan!tapi masih mengembangkan tangan.  Tarik ulur pelaku lakukan. Seperti ungkapan,' ingin melepas tapi sayang.' Pelaku lain, tak ingin pergi, takut ditinggal sendiri. Resah dengan kehidupan yang akan ia hadapi tanpa teman hidupnya. Sang Ayah. Program hari pertama, pelaku merasa bersalah. Pelaku pertama dan pelaku ke dua yang bergelar sang ayah.  Sub bab pada bagian ini akan kita buat menjadi lima sub, dua sub untuk pelaku resah dua sub untuk sang ayah. satu sub untuk angan


Hari Ke-dua
Masih larut malam, outline ini tergores. Masih banyak hari menuju 30 hari menyelesaikan program trauma recovery. Penulis mengatur outline apa yang akan ia sampaikan pada hari ke dua ini. Sub bab pertama, pelaku terbangun tengah malam. Melek mata, ia mengingat kejadian pada hari pertama. Teringat luka yang mungkin untuknya paling dalam dan paling panjang membuat luka di hatinya. Hari kedua ini, iamasih dibayangi jejak sang ayah. Ada benci dan takut kehilangan. Umpatan kecil tapi lirih terlontar dari bibir kecilnya yang kering. "Kamu bajingan, Ayah!' Aku akan mengadukan pada pemilik hidupmu di seperempat malam ke dua.
sub bab pada hari kedua ini akan terfokus pada pelaku yang tak ingin ditinggal sang ayah.  Sub bab pada hari ke dua tetap 5 bagian seperti hari pertama. Pelaku resah masih memikirkan sang ayah. Sub selanjutnya penulis akan refresh, siapa sang ayah. Bagaimana kok jejaknya tertanam dalam disekitar kehidupan pelaku resah. Kasihan pada sang ayah, menimbulkan keinginan membantu sang ayah. Rela mengabdi dan totalitas pelaku, membuat sang ayah tertawa. Ia akan memainkan permainan yang ada di depan matanya. Ternyata sang ayah pemain. Ia berpura pura menangis tetapi tertawa keras di belakang pelaku resah. Ayah, kamu bajingan...

Hari ke-tiga
kita pikirkan esok. Setdaknya di hari ke tiga ini, akan ada sedikit perbaikan dibanding hari ke dua. Tidak ada tangis. Pelaku mencoba menerima hari kedua. Sub bab hari ketiga, esok akan kita tulis kembali.

Sampai ketemu esok di hari ke-tiga

Saya lupa telah menulis ini, sudah ratusan hari terlewati. Sang ayah sering mengajakku bepergian ke mana kakinya melangkah. Masihkah ia pura-pura menangis? saya anggap  tidak. Penulis tidak membicarakan bagaimana sang ayah. Penulis hanya ingin fokus pada yang tersakiti. Nanti akan dibuat tokoh baru, seorang wanita paruh baya yang menjadi teman sang ayah. Ia, sudah tidak muda lagi. Usia paruh baya sepantaran sang ayah. Ia tidak cantik, hanya ia pandai. Sangat sibuk dengan pekerjaannya. Loyal dan mencintai apapun yang ada didekatnya. Entah apa yang terjadi wanita paruh baya yang nantinya akan kita sebut dengan nama Tum akan penulis panggil seperti itu. 
Sudah penulis katakan, tokoh ini pintar, pandai ilmunya, tapi tidak dengan hatinya. Ia mencintai sang ayah dengan segenap jiwa raganya. 



                                Gbr. Prabu Singo Barong, foto yang diumpamakan sebagai Sang Ayah
                                (sumber. Yoni Prianto. Commons.wikimedia.org)

TRAUMA RECOVERY (Jejak Kaki Sang Ayah)

Saya pernah mengikuti zoom penulisan buku bisa best seller dari penulis kenamaan. Satu hal yang pernah disampaikan, buku beliau lahir dari k...