PEMBACA

Selasa, 26 Februari 2019

NASIB WONG CILIK


Lelah memandang.
Macet, berisik, teriakan bising, gerung motor dan mesin pemotong besi.
Bisa abaikan? Tak bisa.
Banyak bau di sana. Termasuk baumu, tikus busuk.

Ya, maafkan kejengkelanku kalau ngomong sampai seperti itu.

Gerimis juga menambah parah kubangan jalan raya yang mirip sawah. Aku malu memotretnya dan kuatir dikira tak bersyukur dengan pemberian yang ada. Jadi kuputuskan tak mau berpikir. Biar.... Biarkan berlalu. Nikmati apa yang ada.

Jalan berlubang
Macet berkepanjangan
Bising motor, mobil dan deru tajam di tanjakan jalan.

Bisa apa selain menerima. Wong cilik menjadi saksi. Wong gede menjadi pejalan negeri.

Cuma bisa 'nggrundel'
Njobo ga iso?
Yo, njero ati ae.

Pak, mau kemana negeri ini akan berlayar. Nahkoda baik akan datang menjelang. Doa terbaik anak negeri, termasuk aku yang terduduk dan tersudut dipojok kampung sunyi yang kata orang kota, daerah pribumi yang terpencil.
Jadi, Pak...
Aku berdoa memang berharap.
Berharap tak salah kan ya?
Sederhana permintaanku pada penguasa negeri yang makmur ini.
Bantu kami menikmati karunia Ilahi.
Ga perlu berlebih, cukup saja kok.
Cukup buat makan.
Cukup buat sekolah.
Cukup buat bayar listrik yang terasa mahal.
Cukup buat bayar pajak.
Cukup buat hal-hal sepele meurutmu, tapi vital menurutku.

****

Begitulah, satu contoh tulisan catatan kecil Jarni.
Sekedar belajar mengungkapkan isi hati melalui goresan kata.
Tanpa makna yang dapat diartikan negatif.

Mari belajar bersama, kawan.

Bekasi, 27 Februari 2019



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TRAUMA RECOVERY (Jejak Kaki Sang Ayah)

Saya pernah mengikuti zoom penulisan buku bisa best seller dari penulis kenamaan. Satu hal yang pernah disampaikan, buku beliau lahir dari k...